Seringkali kita dengar ada yang bilang 'petani indonesia selalu tidak punya posisi tawar' atau 'petani indonesia selalu menjadi kaum yang tertindas'. Memang tidak salah kalau ada komentar-komentar seperti itu. Tapi selama ini tidak pernah ada jalan keluar yang benar-benar memperjuangkan posisi petani tadi.
Kelemahan utama petani Indonesia adalah selalu melakukan pendekatan produksi. Petani hanya berpikir dan berlomba meningkatkan kuantitas hasil panen, meskipun sebagian telah menjaga kualitas produknya. Permasalahannya, ketika panen petani selalu kalah dalam penentuan harga dengan para tengkulak atau pedagang. Petani selalu tidak berdaya menghadapi tekanan tengkulak atau pedagang.
Mestinya petani belajar marketing. Petani belajar bagaimana bisa menentukan harga. Petani perlu belajar menjadi pedagang. Apa tidak bikin repot? Tentu untuk mencapai kesuksesan, kita semua mesti rela lebih repot. Tapi sebenarnya pekerjaan terberat hanya dilakukan di permulaan saja. Belajar sesuatu yang baru, tentu akan terasa berat. Selanjutnya tentu akan mengalir dengan sendirinya. Apalagi selama ini petani terkenal telah teruji menghadapi berbagai masalah. Jadi kalau pun diberi satu masalah lagi, belajar marketing, tentu akan sanggup dijalani petani.
Branding and Packaging
Merk atau brand sering dilupakan petani. Buat mereka, habis tanam dan laku dijual, urusan selesai. Akhirnya petani selalu jadi korban. Mestinya petani mulai memikirkan brand produk sendiri dan bisa dimulai dari langkah sederhana. Misalnya, petani yang produksi beras mulai bikin aja brand, apa aja. Pilih nama yang sederhana saja, seperti beras cap dewi sri, cap sapi, cap kampoeng etc. Nggak usah mikirin logo, jenis font, warna dll. Berani bikin merk sendiri sudah langkah yang bagus. Setelah itu buatin packaging atau kemasan dari plastik bening. Cantumkan merk tadi dengan teknik sablon, atau cukup selipkan kertas besar bertuliskan merk tadi. Mau tulisan diprint saja, boleh juga. Sekarang petani sudah memiliki produk beras dengan packaging plastik bening dan brand sederhana. Langkah sederhana ini mesti dimulai dulu. Keberanian ini mesti dimiliki petani kita.
Creating Market
Setelah branding dan packaging selesai, cobalah untuk menawarkan produk beras tadi. Bisa lewat arisan, pengajian, temen2 sesama petani, tetangga, saudara, bahkan ada tamu dateng ke rumah pun harus ditawari. Hal penting dalam menjual produk ini adalah hilangkan rasa malu. Petani mesti punya rasa percaya diri atas produknya. Toh mereka tanam sendiri dan tau detail kelebihan dan kekurangan produknya. Sedikit cerita perjuangan sejak membajak dan mencangkul sawah sampai proses panen, akan jadi cerita menarik untuk pembeli. Pilih kisah seru, lucu, sedih yang terjadi. Apapun alasan pembeli tertarik pada produk tadi, jangan terlalu dirisaukan. Kalaupun mereka beli karena munculnya empati, justru petani telah berhasil menjadi marketer yang hebat! Petani Indonesia, Let's Do Marketing!
Rabu, 11 Maret 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Arsip Blog
Mengenai Saya
- priyo husodo
- passionate, risk taker, modal nekat, berani action dan terkadang nyleneh jadi jurus andalannya ... membangun imperium bisnis, dan seperti layaknya seorang family man, semua didedikasikan untuk anak, istri, orang tua dan keluarga ... semua dimulai dengan ranaka corp di bidang agrobisnis, bisnis 'bakul buah' ... mendirikan e-Works, entrepreneur workshop, wadah edukasi dan penyebaran virus entrepreneur ... TAKE RISK, GET DREAM, BE ENTREPRENEUR !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar